Rabu, 12 November 2014

Berdiasporalah, Pemain Indonesia!

Di era globalisasi seperti saat ini, fenomena perpindahan manusia semkin marak kita temui. Dibukanya pasar bebas membuka peluang setiap individu untuk bisa bekerja di belahan bumi manapun. Setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa mengembangkan kariernya.

Pun yang terjadi di Indonesia. setiap personal yang ada di Indonesia saat ini memiliki kesempatan untuk bekerja dan meniti karir seluas-luasnya. Tak hanya berada di Indonesia saja namun juga terbuka kesempatan untuk bisa ke luar negeri. Fenomena penduduk Indonesia yang bekerja diluar negeri ini dinamakan sebagai diaspora.

Diaspora menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki definisi yakni tersebarnya penduduk dari satu negara ke berbagai penjuru dunia. istilah ini yang coba diusung penulis sebagai istilah yang juga dapat berlaku di sepakbola. Bila ditarik kesamaan antara diaspora dan sepakbola, arti yang muncul adalah keadaan dimana suatu negara mampu untuk memproduksi pemain sepakbola yang berkualitas dan mampu menyebar untuk bermain di liga dari berbagai penjuru dunia.

Fenomena pemain Indonesia ke luar negeri untuk bermain sepakbola dimulai pada tahun 1974. Adalah Iswadi Idris yang mengawali kariernya di luar negeri bersama klub Liga Australia Western Suburbs. Selama satu musim pada 1974-75, legenda sepakbola Indonesia ini tampil sebagai pilar klub. Berlanjut pada tahun 1988, klub Matsushita yang bermain di Liga Jepang merekrut salah satu penyerang haus gol Indonesia Ricky Yackobi. Tak mau kalah dengan rekanya setahun kemudian Robby Darwis menjadi pujaan publik Malaysia melaui aksinya di klub Kelantan FA pada 1989-90.

Pemain Indonesia mulai diperhitungkan di liga Eropa pada waktu itu ketika Kurnia Sandy dan Kurniawan Dwi Yulianto sukses masuk tim utama salahsatu klub Serie-A Italia Sampdoria. Pada waktu itu musim 1996-97, Kurnia Sandy masuk sebagai kiper ketiga tim yang bermarkas di Genoa, Italia itu. Namun sayang pada waktu itu Allenatore dari Sampdoria jarang memberikan menit bermain kepada Kurnia Sandy karena lebih mempercayakan pada kiper lokal. Pun hal yang sama terjadi pada Kurniawan. Padahal sebelum berlabuh di Sampdoria, Kurniawan telah memiliki pengalaman bermain di Liga Eropa bersama klub Swiss FC Luzern pada 1994-95.

Kurniawan DY ketika bermain di tim Primavera Sampdoria

foto via http://syifaurrahman.files.wordpress.com/


Fenomena diaspora pemain Indonesia untuk bermain di liga Eropa semakin deras pada medio 2000an. Liga Hongkong menjadi tempat mengadu nasib mengocek bola bagi Rochi Putiray. Selama 3 musim Rochi menjadi bomber yang menakutkan di depan gawang lawan di Liga Hongkong. Instant-Dict FC, Happy Valley, South China AA dan Kitchee SC menjadi klub tempat persinggahan Rochi Putiray. Bahkan sejarah mencatat pada sebuah laga ujicoba bersama Kitchee SC, Rochi Putiray sukses dua kali menjebol gawang AC Milan yang dikawal oleh  Christian Abbiati pada waktu itu.

Aksi Rochi Puttiray ketika membobol gawang AC Milan pada sebuah laga ujicoba Kitchee FC, Hongkong

foto via www.pbase.com/accl


Negara tetangga kita juga tak akan pernah lupa bagaimana dua pemain Indonesia yang bermain bagi klub lokal Selangor FC sukses memberikan kejayaan berupa juara liga. Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy membawa Selangor FC berjaya pada musim 2005-07. Bahkan Bepe dua kali sukses menyabet gelar pemain terbaik dan topskor di Liga Malaysia.

Bepe mengharumkan nama Indonesia di negeri jiran Malaysia lewat torehan golnya

foto via www.sundul.com


Melihat fenomena diatas maka sangat layak jika himbauan untuk pemain Indonesia bisa berdiaspora, bermain di liga di penjuru dunia, untuk terus diapungkan. Memang, kenyataan yang selama ini terjadi pemain Indonesia masih ada dibawah dari pemain dari negara Eropa bahkan Jepang dan Korea Selatan dalam hal kualitas. Kebanyakan pemain Indonesia merasa minder ketika bersaing di liga selain liga Indonesia. namun, justru metode diaspora inilah yang sangat dibutuhkan oleh pemain Indonesia saat ini. 

Kita bisa melihat bagaimana amburadulnya Liga Indonesia. dari hal yang pertama dan esensial adalah soal jadwal liga yang kerapkali berubah. Menjadi hal yang sangat riskan bagi pesepakbola dan sebuah tim apabila jadwal liga bisa berubah tak menentu. Program yang telah dilaksakan oleh tim akan kena imbasnya dan pemain tidak bisa berkembang menuju performa terbaiknya. Jadwal Liga Indonesia kerap kali berubah karena izin dari panpel yang kerap tak keluar akibat tidak terjamin keamanan pertandingan. Kedua, manajemen gaji klub-klub Liga Indonesia masih sangat parah. Banyak klub-klub di Liga Indonesia yang terlambat membayarkan gaji kepada pemainya. Hal ini tentu berimbas pada kesejahteraan dan kenyamanan pemain. Hal ini jelas tidak menunjang pada perkembangan pemain dalam mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Faktor ketiga yang menyebabkan Liga Indonesia belum sepenuhnya profesional adalah masih banyaknya permainan keras yang kadang tidak di peringatkan oleh wasit. Tekel-tekel keras yang dipertunjukan oleh pemain kerap tidak di peringatkan oleh wasit. Hal ini berdampak besar ketika pemain Indonesia bertanding di kancah ASEAN seperti di AFF Cup atau Sea Games atau bahkan di kancah Asia seperti Piala Asia, Liga Champion Asia, dan AFC Cup. Pemain Indonesia kerap melakukan tekel keras akibat terbawa oleh permainan yang seringkali terjadi di Liga Indonesia. Namun bedanya, pada level ini pemain Indonesia mendapat getahnya melalui kartu kuning yang tidak perlu atau bahkan kartu merah yang justru memberikan kerugian bagi tim yang dibelanya. 

Kerasnya J-League saat ini di rasakan Irfan Bachdim bersama Venforet Kofu

foto via lintas.me


Atas dasar hal diatas, sudah saatnya pemain Indonesia untuk berdiaspora bermain di liga-liga sepakbola di luar negeri. Transfer ilmu akan didapatkan oleh pemain Indonesia mulai dari sistem liga yang terstuktur dengan rapi, fasilitas latihan yang bagus sehingga mampu meningkatkan skill individu serta penguatan mental untuk bersaing dengan para pemain sepakbola dari penjuru dunia. Tetap terus maju bagi pemain Indonesia yang memutuskan untuk berdiaspora di liga luar negeri bagi Andik Vermansyah, Hamka Hamzah, Patrich Wanggai, Yandi Sofyan dan Irfan Bachdim untuk musim ini. Tunjukkan bahwa pemain Indonesia tak kalah kualitas. Sekali lagi penulis sarankan, berdiasporalah, pemain Indonesia!


@aditmaulhas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar