Selasa, 19 Maret 2013

International Class is My Comfort Zone


Beberapa waktu yang lalu dunia pendidikan sempat dihebohkan oleh kebijakan yang menyentuh salah satu unsurnya. Kebijakan itu ialah di wacanakanya penghapusan kelas Rintisan  Sekolah Berbasis Internasional (RSBI). Yep, kelas yang menitik beratkan pada metode pengajaran yang mengacu pada sistem kelas Internasional.sesuai dengan namanya yang mengacu pada  metode pembelajaran Internasional, berjalanya kelas disesuaikan dengan menggunakan cara internasional yakni memakai bahasa pengantar bahasa Inggris, buku dari luar negeri serta mengunakan tenaga pengajar dari luar negeri. Thus, the question :  are they (RSBI class) truly called as “International Class”?
Kebijakan dari pemerintah tersebut menggelitik memang. Sebagai personal yang terlibat dalam kegiatan belajar megajar dalam lingkup kelas internasional, mulai bertanya pada diri sendiri. Apakah selama ini sudah merasakan benar manfaat dari kelas internasional? The question is raised. A lot. Kuliah hampir kurang lebih jalan 3 tahun, tecatata sebagai mahasiswa International Program of International Relations (IPIREL) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sedikit banyak tahu tentang bagaimana metode belajar dengan cara internasional. Sudah dapat manfaat belum selama di kelas internasional atau cocok di sebut mahasiswa dengan kualifikasi internasional?
Lalu apa saja rutinitas yang terjadi selama kurang lebih hampir 3 tahun menjadi mahasiswa di kelas internasional? A lot! Mulai dari hal yang sederhana, ketika memulai jadi mahasiswa tahun pertama di IPIREL UMY. Ada satu ruangan yang khusus di buat untuk mahasiswa kelas internasional. Ruangan itu biasa di sebut “study hall”. Dari namanya jelas bahwa ruagan trsebut diperuntukkan untuk kegiatan belajar. Banyak hal bisa dilakukan di study hall, mulai dari browsing internet, sekedar baca buku sampai berdiskusi panjang lebar. Ruangan ini cukup nyaman untuk berlama-lama di dalamnya karena dilengkapi pendingin ruangan.
IPIREL 2010 Squad

Tak hanya sebuah ruangan study hall yang menjadi fasilitas bagi mahasiswa kelas internasional di UMY. Pola belajar mengajar dengan mengunakkan bahasa inggris, baik itu dari segi bahasa pengantar saat proses pembelajaran maupun buku yang digunakan. Ditambah lagi bahwa dosen dari luar negeri seringkali dihadirkan sebagai selingan dalam proses kuliah. Hal-hal diatas membuat atmosfer kompetisi begitu terasa. Diatambah lagi adanya kesempatan exchange student maupun transfer kredit untuk merasakan lebih nuansa internasional dalam proses pembelajaran.
Namun, terlintas dalam pikiran apabila kita hanya terus menerima atas segala fasilats yang disediakan oleh kelas internasional maka kita akan terbuai. Zona nyaman pun terbentuk. Terkungkung dalam satu cakupan tanpa memperdulikan dunia luar, bahkan anti sosial dalam bersosialisasi ke luar lingkungan dari kelas internasional itu sendiri. Fakta sangat njomplang saya temukan ketika berdiskusi ataupun tegur sapa dengan mahasiswa yang bukan dari kelas internasional. “kok ga pernah keluar dari study hall?” atau “gaulnya cuma sama anak IC aja nih” menjadi pertanyaan atau sapaan yang sering terdengar waktu tahun pertama menjadi mahasiswa kelas internasional.
Tentu saja ada pola “idealis” yang selayaknya sebagai seorang mahasiswa internasional. Dengan fasilitas yang melimpah, tentu saja hal tersebut hendaklah digunakan dengan baik. Di otimalkan dengan maksimal. Suasana kompetisi yang terjadi adalah hal yang menurut saya sebagai comfort zone. Nyaman dalam artian pola pikir untuk terus memberbaiki kualitas diri terus terjaga. Namun tak lupa sebagai mahasiswa yang menempatkan diri sebagai personal yang sosial, hubungan antar mahasiswa juga harus terjaga tanpa membedakan kelas. Kadang kita perlu untuk keluar dari comfort zone kita dan berinteraksi dengan sekitar. Ya, karena hidup bukan statis di satu tempat namun harus terus berputar dan bergerak.

By the way, kuliah di kelas internasional itu biayanya mahal. Jadi.........kuliah yang bener, Dit.



@aditmaulhas.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar