Kamis, 10 Januari 2013

Tentang Oportunis dan Komitmen yang Mendasarinya


Pukul 00.44. di depan laptop. Pulang setelah (hampir) seharian bergelut dengan rapat program kerja.

Segelas hot chocolate sudah habis mengisi malam minggu ini. Ada yang berbeda.

Tanggal sudah berganti menjadi tepat pada tanggal 6 Januari 2013. Sudah enam hari tahun yang baru menurut perhitungan masehi ini berjalan. Banyak pelajaran yang seharusnya dituliskan pada akhir tahun sebagai sebuah bentuk refleksi. Namun, lagi-lagi waktu sangat berperan. Kesempatan untuk menuliskan baru hadir pada saat ini.

Ya, kata orang dengan datangnya tahun baru maka muncul resolusi tahun baru. Perencanaan untuk setahun kedepan. Tentunya semua ini didapat setelah sedikit flashback ke tahun lalu. Mengevaluasi apa saja yang telah terlaksana. Mengingat kembali peristiwa yng telah terjadi. Sangat manusiawi.

Namun ada satu yang berat untuk teringat...............memori lama.

On 2012 my life is categorize as fluctuactive. Masa transisi cukup kentara. Ditahun ini menanggalkan umur belasan menjadi berubah, angka “2” didepan. 20 tahun sudah.

Tahun lalu juga dikategorikan sebagai pembelajaran tentang organisasi. Hal ini terjadi atas niatan untuk berubah.  Membawa diri untuk naik pada tingkatan yang lebih tinggi. Diamana niat untuk mendapat hak atas komitmen yang lebih menjadi hal yang patut diperjuangkan.

Saya belajar menjadi sosok yang oportunis. Saya belajar menjadi sosok yang lebih tegas. Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Univ Muhammadiyah Yogyakarta memberikan nilai itu. Bagaimana dorongan atas hak yg seharusnya didapat oleh personal yang telah memberikan komitmen yang lebih pantas mendapatkan promosi. Posisi yang tinggi memang patut dikejar. Menjadi oportunis itu perlu, atas dasar sebuah pengorbanan yang telah terbuat.

Moving forward untuk tahun yang baru, tanggung jawab dan komitmen menjadi penting. Jujur, tanggung jawab untuk hal yang kecil masih berat; tepat waktu. Dan tentu atas komitmen-komitmen yang telah terbuat bisa berjalan lancar. Semua berjalan dalam jangka waktu yang lama. longlasting.

Sounds normative.

Semoga kita tidak terjebak pada opsi-opsi idealis yang justru kita langgar berdasarkan apa yang kita rancang sendiri.


@aditmaulhas.


nb: ketika membaca tulisan ini dirasa sudah cukup jauh dari tanggal pembuatanya, dikarenakan kurang selo nya penulis untuk meng-upload.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar