Rabu, 17 Agustus 2016

Merawat Kebanggaan Menjadi Indonesia

Untuk bangga menjadi Indonesia membutuhkan energi yang tak sedikit. Ia harus terus dipupuk dan dijaga, serta terus menerus didengungkan dalam pikiran dan perbuatan.

Menjadi Indonesia, dewasa ini, merupakan satu perjuangan sendiri. Tak peduli hidup dimanapun, baik itu di tanah air maupun di luar negeri, perjuanganya sama-sama membutuhkan keteguhan hati. Jika menganggap bahwa bangga menjadi Indonesia adalah hal yang sepele, silakan pikir kembali
.
Ada tiga dinamika yang menyusun rupa wujud nasionalisme: hubungan antar anggota masyarakat yang solid, berjejaring dengan bangsa lain, dan yang patut menjadi catatan, memeluk erat identitas sebagai warga negara. Menjadi satu perhatian tersendiri mengapa bangga menjadi Indonesia adalah penting wujud rasa nasionalisme kita kepada tanah air.

Rumput tetangga akan selalu lebih hijau, kata peribahasa. Pun, kehidupan di luar negeri menawarkan kemewahan yang kadang tak dapat ditemukan pada ranah ibu pertiwi. Apabila abai dalam nyamanya hidup di negara lain, perlahan-lahan tak terasa, rasa nasionalisme itu mulai memudar. Oleh karena itu, kewajiban untuk menjaga rasa bangga menjadi Indonesia patut terus diupayakan, utamanya ketika berada di tanah rantau, yang jauh dari kampung halaman.

Tengok bagaimana perjuangan sekumpulan pemuda yang memperjuangkan nama tanah air di Belanda medio 1908. Sekelompok pemuda bernama Abdulmajid Djojohadiningrat, Ali Sastroamidjojo, Nazir Pamuntjak, dan Mohammad Hatta menggaungkan nama tanah air di negeri bunga tulip itu. Melalui kesamaan visi, mereka tak lupa akan asal usul lalu kemudian berdiplomasi memperjuangkan nama Indonesia. Tak ada rasa gentar sedikitpun di hati mereka.

Sosok Bung Hatta menjadi idiom yang tepat dari menjaga kebanggaan menjadi Indonesia. Bisa dikatakan, beliau mendedikasikan seluruh waktunya untuk Nusantara. Sosok yang lahir Bukittinggi ini memberikan contoh bahwa berada dibelahan bumi manapun, pikiran dan perbuatan hendaklah tetap berpegang teguh pada rasa bangga pada ibu pertiwi. Masih jelas terekam bagaimana sosok yang memiliki nama kecil Mohammad Athar ini ketika membacakan pledoinya, Indonesia Vrij, di depan publik Belanda. “hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku, Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku”, tulisnya dalam sebuah pidato yang ia bacakan tanpa gentar sedikitpun di Pengadilan Den Haag, Belanda. Tak ada kenal lelah bagi Bung yang satu ini untuk mementingkan negara, bahkan hingga beikrar menikah hanya setelah Indonesia merdeka.

Berangkat dari romantisme masa lalu, pada saat ini bolehlah kita tetap berbangga pada masa depan tanah air. Predikat sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia lalu mulai menancapkan kukunya sebagai poros maritim dunia, hingga bonus demografi dengan berlimpahnya anak  muda yang akan menjadi pemimpin masa depan, menjadi modal tersendiri untuk merawat kebanggaan menjadi Indonesia.

Momentum 71 tahun kemerdekaan Republik Indonesia patutlah menjadi titik untuk merawat rasa bangga kepada tanah air. Wujudnya bisa bermacam-macam, mulai dari bangga memperkenalkan Indonesia dimanapun berada, menggunakan atribut khas Indonesia, hingga yang paling hakiki yakni mendaku diri untuk mengabdi kepada tanah air selepas belajar di negara lain. Percayalah, sekecil apapun yang dilakukan atas niat untuk mengharumkan nama bangsa, akan ada secercah harapan yang akan dituai oleh ibu pertiwi secara manis.


Sebagai manusia yang lahir di pangkuan ibu pertiwi, sudah selayaknya merasa bangga menjadi Indonesia. Terukir harapan untuk tak lelah merawatnya demi terwujudnya tujuan Indonesia menjadi bangsa yang berdikari, kapanpun dan dimanapun berada.


@aditmaulhas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar