Selasa, 19 April 2016

Hanacaraka Ajisaka Untuk Sepakbola Indonesia

Sama-sama punya kepentingan, sama-sama ingin menjaga pusaka, Dora dan Sembada akhirnya sama-sama tewas. Kematian keduanya diabadikan dengan syair yang menjadi tonggak budaya Jawa. Syair empat baris yang lestari hingga kini sebagai aksara dari bahasa Jawa, Hanacaraka.

Kisah keduanya tak ubahnya dengan pertikaian Menpora dan PSSI akhir-akhir ini. Sama-sama punya kepentingan dan ingin menjaga sepak bola, yang belakangan sudah menjadi kepentingan bangsa selayaknya pusaka.

Namun, pertikaian keduanya belum berakhir. Belum menghasilkan sesuatu yang menjadi tonggak sejarah mengubah dan membangkitan sepak bola Indonesia.

Syahdan, tersebutlah zaman dahulu sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang dipimpin Ajisaka. Dikisahkan, sepanjang upayanya menjadi raja, Ajisaka yang berasal dari Majethi itu mempunyai dua abdi kepercayaan, Dora dan Sembada.

Ajisaka kemudian merantau ke Medang Kamulan ditemani Dora. Sementara Sembada ditugaskan untuk tetap di Majheti guna menjaga keris pusaka yang sengaja ditinggalkannya. Ajisaka berwasiat pada Sembada agar tak menyerahkan keris itu kepada siapapun juga, kecuali Ajisaka sendiri.

Ditemani Dora, Medang Kamulan berhasil direbut Ajisaka dari Dewata Cengkar. Ia pun menjadi raja di sana.

Selayaknya budaya Jawa, seorang raja tanpa keris pusaka adalah pria tanpa kejantanan. Maka Ajisaka pun mengutus Dora ke Majheti untuk mengambil pusakanya.

Namun, kepulangan Dora ke Majheti guna mengambil pusaka itu malah tak diterima oleh Sembada yang masih memegang teguh pesan tuannya dulu agar pusaka itu tak lepas dari tangannya kecuali diambil Ajisaka sendiri. Mulai adu mulut mempertahankan prinsip tugasnya, perkelahian keduanya pun tak terelakkan. Keduanya pun sama-sama meregang nyawa.

Ajisaka mengenang dua abdinya itu dalam syair dengan deret aksara:

Hana caraka; ada dua utusan

Dora dan Sembada tiada bedanya dengan PSSI dan Menpora. Dua utusan yang sama-sama diberi tugas sama pentingnya. PSSI, sebagai sebuah organisasi induk dari persepakbolaan bumi pertiwi ini, adalah representasi dari ide luhur Soeratin untuk melestarikan dan mengembangkan sepak bola. Di lain sisi, Kemenpora merupakan perwakilan dari Pemerintahan, juga memiliki kewajiban untuk menjaga agar kesinambungan pembinaan olahraga Indonesia berjalan dalam lintasan yang benar.

Data sawala; yang saling berselisih

Dora dan Sembodo justru terjebak dalam konflik ketika mereka sama-sama menjaga warisan dari Ajisaka. Pun yang terjadi pada sepak bola Indonesia hari ini. Dua pihak yang berseteru sama-sama punya prinsip bahwa mereka sama-sama punya tanggung jawab untuk membawa olahraga yang dulunya dikenal sebagai sepakraga ini, menjaga dan melestarikan hingga menuju ke arah yang lebih baik.

Jika perselisihan dua utusan tadi karena tugas dari Ajisaka, konflik PSSI vs Menpora ini terjadi ketika sepak bola dirasa sudah menjadi kepentingan banyak orang. Desakan rakyat yang sudah jenuh dengan keringnya prestasi sepak bola Indonesia membuat Menpora mengambil langkah-langkah yang malah membuatnya berkonflik dengan PSSI.

Padha jayanya, sama kuat

Bukan sama-sama berjaya di akhir konflik, maksud baris ketiga dari Carakan Ajisaka ini lebih merujuk ke kekuatan Dora dan Sembada dalam pertarungan mereka. Kesaktian keduanya sama-sama kuat di mata Ajisaka. Karena ia lah yang tahu kapasitas keduanya dalam menyerap ilmu darinya.

Sama halnya dengan Menpora kali ini. Selain mendapat dukungan rakyat, Menpora sebagai staf pemerintahan juga memiliki kekuatan untuk ‘mengendalikan’ aparatur negara lainnya, dalam hal ini Kepolisian untuk tidak memberi ijin kepada PSSI untuk menjalankan liganya.

Sementara PSSI, kekuatan mereka terletak pada dasar berdirinya mereka. Sebagai federasi yang bercikal dari perkumpulan, mereka yang tidak bisa diintervensi pihak manapun. Hanya FIFA yang mampu meruntuhkan PSSI. Karena federasi sepak bola Indonesia ini anggota dari FIFA, yang notabene juga perkumpulan.

Baik Menpora dan PSSI saat ini, sama-sama kuat.

Maga bathanga, menjadi mayat

Akhir yang tragis dari upaya menjaga titah berupa pusaka, Dora dan Sembada sama-sama tewas. Tak ada pemenangnya. Namun, syair Ajisaka untuk mengenang mereka kemudian menjadi dasar budaya dari sebuah bahasa.

Sontak, bayangan tertuju pada konflik PSSI dan Menpora. Perselisihan antara mereka seolah tak ada akhir. Hingga saat tulisan ini dibuat, belum ada titik terang yang diupayakan agar konflik ini bisa berakhir.

Tentu kita sama-sama tak ingin ‘kematian’ kedua institusi menjadi akhir konflik. Meskipun kita sama-sama ingin kebangkitan sepak bola bangsa ini bisa terwujudkan dan lestari nantinya. Laksana hanacaraka.

Harapan tertinggi dari kita semua adalah, kedua pemangku kebijakan olahraga paling populer di Indonesia ini adalah duduk bersama, satukan pikiran, dan yang paling penting, singkirkan ego dan kepentingan kelompok yang menunggangi niat luhur membangun sepakbola Indonesia. Semoga ini tidak menjadi harapan semata.





*) naskah ini sebelumnya pernah dimuat pada laman thefans.id yang kini telah tutup buku akibat mandeknya liga sebelum dimulai, karya tandem dengan rekan Angger Worodjati @anggeragr

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar