Minggu, 04 Januari 2015

Ketika Seorang Kapten dalam Persimpangan




Dunia terkejut ketika pada Jum’at (2/1) sore waktu Indonesia Barat seorang kapten tim mengumumkan untuk tidak memperpanjang kontraknya dalam sebuah klub. Tak sembarang kapten, namun juga telah menjadi ikon kotanya. Steven George Gerrard nama lengkapnya, memutuskan untuk mengakhiri masa baktinya sebagai kapten tim Liverpool FC seusai musim 14/15 paripurna. Sebuah keputusan besar untuk tidak memperpanjang kontrak untuk bermain bagi klub yang membesarkanya sejak merintis karir di akademi hingga menyandang ban kapten di tim senior. Tak kurang sudah 17 tahun seorang Gerrard, pria penuh kharisma yang lahir di bagian dari distrik Merseyside Liverpool bernama Whiston, mengocek si kult bundar.

Kondisi Gerrard ketika mengumumkan diri untuk tidak memperpanjang kontrak di akhir musim sebenarnya berada dalam kondisi persimpangan. Liverpool, tim yang dibelanya, berada dalam kondisi yang jauh dari kata memuaskan hingga pekan ke 20 Premier League. The Reds tececer ke peringkat 8 klasemen sementara jauh dari pencapaian runner up pada musim 13/14. Analisis yang berkembang, mandeknya permainan Liverpool yang sering kehilangan poin dan tak berkarakter pada tiap pertandinganya adalah merupakan andil dari pemain yang memiliki nama akrab Stevie G. Umur tak bisa dibohongi. Pada usianya yang ke 34 statstik dan performa Kapten bernomor 8 ini telah menurun.

Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Squawka, dalam 17 pertandingan ketika Gerrard diturunkan sebagai starter selama 90 menit, hanya 6 yang berakhir dengan kemenangan. Bahkan ketika partai away ketika kalah 3-1 melawan Crystal Palace statistik tacklenya tak ada satupun yang berhasil alias 0%! Hal ini berpengaruh pada rataan tackle yang berbanding terbalik bagi seorang Steven Gerrard. Sampai pekan ke 20 EPL musim ini hanya 27 tekel yang sukses, tak ada setengahnya dari catatan yang ia torehkan dengan namanya pada musim lalu berjumlah 71.

Statistik tekel Steven Gerrard ketika Liverpool kalah 1-3 dikandang Palace

foto via twitter.com/squawka



Perbandingan performa yang tampak menurun dari Steven Gerrard dari musim 13/14 ke musim 14/15

foto via squawka.com



Atas dasar menurunya performa, menit bermain seorang Gerrard menjadi berkurang. Tak ayal bangku cadangan saat ini menjadi teman akrab seorang ikon kota Liverpool ini. Kondisi ini mau tak mau diambil pelatih Brendan Rodgers ketika kekompakan tim tak kunjung muncul. Posisi Gerrard yang berevolusi sejak musim lalu yakni menjadi gelandang bertahan tak lagi memberikan rasa aman bagi back four di belakangnya. Sosoknya mulai tergantikan oleh seorang Lucas Leiva dengan catatan statistik yang lebih mentereng dari Gerrard dalam posnya sebagai filter pertama serangan lawan, dengan 36.5% intersep. Sementara sosok Stevie G hanya mampu menorehkan 20% intersep hingga pekan ke 20. Kondisi ini menjadi dilematis bagi Rodgers. Sebagai seorang gaffer, masih sulit rasanya untuk menafikkan pemain sekaliber Gerrard hanya di bangku cadangan. Berbagai opsi sudah dilakukan B-Rod untuk terus memakai Gerrard sebagai inti permainan Liverpool seperti menduetkan Gerrard dengan Lucas dalam skema double pivot hingga mengorbankan Henderson di posisikan sebagai sayap kanan.  Hasilnya pun setali tiga uang, performa tim tetap tak kunjung maksimal.

Secara implisit bisa kita lihat bahwa keputusan Gerrard untuk tidak memperpanjang kontraknya di Liverpool karena personal dari sosok mantan kapten timnas Inggris ini yang masih ambisius untuk mendapatkan menit bermain yang reguler 90 menit pada tiap pekan. Keputusan untuk meninggalkan Liverpool pada akhir musim 14/15 untuk selanjutnya mencicipi tantangan baru di liga sepakbola Amerika Serikat, Major League Soccer (MLS), seakan menguatkan ambisinya untuk terus berpeluh keringat di lapangan hijau.

Statement resmi dari Gerrard untuk melanjutkan karirnya di Major League Soccer tertekam dari tweet resmi @LFC


Pada akhirnya, keputusan dari Captain Fantastic untuk tidak memperpanjang kontrak bersama Liverpool pada akhir musim 14/15 adalah keputusan yang perlu diputuskan pada titik sebuah persimpangan. Di satu sisi, Liverpool sebagai sebuah tim perlu terus berkembang tanpa harus terhambat oleh figur satu atau dua pemain saja. Sementara pada sisi yang lain, seorang ikon tim merasa masih mempunyai gairah untuk terus bermain. Sebagai seorang kopites, perlu rasanya legowo dan mengapresiasi keputusan seorang Steven Gerrard untuk mengakhiri petualanganya di Liverpool selama 17 tahun pada akhir musim nanti, seperti besarnya rasa apresiasinya yang ia ungkapkan untuk mewakili para suporter Liverpool FC sebagai pemain dan sebagai seorang kapten.



“It has been a previlege to represent you, as a player and as a captain. I have cherished every second of it”


Thank you, Stevie.





@aditmaulhas


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar