Selasa, 13 Januari 2015

Keterbukaan Informasi Publik yang Bersinggungan dengan Demokrasi Digital

Indonesia menasbihkan dirinya sebagai sebuah negara demokrasi semenjak bergulirnya reformasi yang terjadi pada 1998. Bermula dari peristiwa reformasi pada 1998 yang monumental itu, Indonesia menerapkan nilai-nilai demokrasi dalam roda pemerintahan. Dalam pergerakanya, pemerintahan Indonesia menyisipkan prinsip demokrasi yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Keterlibatan rakyat dalam jalanya roda pemerintahan tak bisa ditawar lagi. Keputusan yang dihasilkan oleh pemerintah pun tak luput dari peran rakyat, baik itu secara langsung maupun tidak langsung melalui sistem perwakilan di parlemen.

Untuk menjamin terlaksananya sebuah pemerintahan yang baik atau sering disebut dalam istilah good governance, perlu adanya unsur keterbukaan. Segala macam hal yang terjadi dalam berjalanya sebuah pemerintahan hendaknya bisa diakses secara terbuka oleh rakyatnya, termasuk keterbukaan informasi. Perwujudan transparansi dalam sebuah pemerintahan diartikan sebagai bukti nyata penyelenggaraan sebuah negara. Pun demikian dengan transparansi dalam hal informasi. Ketika segala macam informasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara mudah diakses oleh warganya merupakan upaya untuk mewujudkan apa yang dimaksud dengan good governance. Indonesia telah mengatur keterbukaan informasi pada rakyatnya dalam perundangan yang tertuang dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.

Tertuang dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2008 yang mengatur keterbukaan informasi publik ini sebuah peraturan bagi tiap badan publik untuk membuka akses bagi warga negara Indonesia untuk mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya. Di samping itu, dalam UU no 14 tahun 2008 itu juga ditegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan badan publik serta segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik. Hak dan kewajiban bagi pemohon dan pengguna informasi publik, infomasi mana saja yang wajib disediakan dan diumumkan oleh pemerintah, serta mekanisme untuk mendapatkan informasi publik tersebut.

Berbicara tentang keterbukaan informasi publik, tentu saja kita tidak dapat mengesampingkan dunia digital dengan media sosial sebagai pirantinya. Perkembangan dunia digital dengan media sosialnya telah membuat rakyat Indonesia bergemuruh dengan lantang mengeluarkan aspirasi. Media sosial dalam bentuk twitter dan facebook menjadi riuh dengan komentar, pujaan, bahkan makian kepada para calon representatif rakyat di pemerintahan.  Momentum Pemilihan Umum 2014 lalu menjadi bukti nyata bagaimana peran sosial media begitu riuh mewarnai hingar bingar pesta demokrasi. Tak heran jika momen pemilihan umum 2014 lalu melahirkan daulat rakyat dalam sebuah tajuk demokrasi digital.


visualisasi demokrasi digital

foto via blog,marylhurst.edu


Perkembangan dunia digital telah meningkatkan kesempatan rakyat untuk dapat mengetahui informasi dari badan publik secara transparan. Kembali, Pemilu 2014 di Indonesia menjadi momentum. Komisi Pemilhan Umum (KPU) menganut sistem open data yakni membuka data perolehan suara dari tiap tempat pemungutan suara sehingga publik dapat melihatnya secara real-time. Pun juga ketika persiapan jelang Pemilu 2014, dalam situs resmi KPU di laman data.kpu.go.id kita bisa langsung cek data pemilih dalam Pemilihan Umum 2014. Data yang tersaji pada laman KPU tersebut meliputi Nomor Induk Kependudukan, daerah asal, dan nomor Tempat Pemilihan Suara dimana kita dapat mencoblos. Tak hanya itu, pada laman resmi KPU tersebut publik juga dapat melihat daftar calon legislatif lengkap dengan rekam jejaknya. Apa yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum ini seakan menegaskan bahwa keterbukaan informasi bagi publik itu penting, sekaligus wujud nyata dari salahsatu pilar nilai demokrasi berupa transparansi.

Tak hanya Badan Publik yang berupaya mewujudkan keterbukaan informasi bagi rakyat dengan mengambil momentum pemilihan umum 2014, peran rakyat semakin  juga tampak  dan meningkat dalam upaya keterbukaan informasi publik. Situs kawalpemilu.org yang khusus dibuat untuk memantau jumlah suara hasil Pemilihan Umum Presiden 2014 dari tiap Tempat Pemungutan Suara yang tersebar dari seluruh penjuru Indonesia adalah salahsatu buktinya. Situs yang dibuat secara sukarela ini merupakan wujud turun tangan langsung dari rakyat untuk mengawal keterbukaan informasi publik. Oleh Ainun Najib, founder kawalpemilu.org, menegaskan bahwa adanya transparansi pada jumlah suara yang masuk untuk Pemilu Presiden 2014 kemarin memang berawal dari keresahan masyarakat yang melihat begitu berbeda hasil quick count yang ditampilkan oleh media mainstream. Dan hasilnya, secara tak disangka, mampu menampilkan data yang akurat tidak beda jauh dengan hasil yang dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum. Hasil yang luar biasa yang didapat oleh kawalpemilu.org ini tidak dapat terwujud jika tidak adanya partisipasi rakyat untuk berperan secara sukarela sebagai relawan, memantau jalanya penghitungan suara di TPS pada daerahnya masing-masing lalu meng-uploadnya demi terwujudnya transparansi hasil Pemilu Presiden 2014. Media digital menjadi media yang mudah diakses oleh rakyat sebagai media untuk mewujudkan keterbukaan informasi publik.

Tiap kebijakan dari Badan Publik bisa terus kita kawal semenjak semangat demokrasi digital mulai merebak. Badan Publik meliputi Kementerian dan Komisi Pemberantasan Korupsi secara rutin memperbaharui info dan kebijakan yang dihasilkan untuk kemudian ditampilkan secara transparan dan bisa diakses oleh masyarakat melalui website resmi. Konten yang diberikan sangat beragam dan interaktif, sehingga memudahkan masyarakat untuk memantau kinerja dari kementerian ataupun badan publik yang baru naik daun semacam Komisi Pemberantasan Korupsi. Bahkan untuk memacu Badan Publik untuk menyediakan informasi secara interaktif pada laman websitenya, diberikan pernghargaan khusus yang diberi nama E Transparancy Award. Penghargaan yang digagas oleh Paramadina Public Institute and Policy (PPIP) dan Unit Kerja Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP-PPP) ini khusus diberikan kepada Badan Publik yang memanfaatkan teknologi dan piranti elektronik demi terwujudnya transparansi dalam bernegara. Untuk 2014, badan publik yang diberikan penghargaan E Transparancy Award adalah Komisi Pemberantasan Korupsi lalu diikuti oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian Kesehatan RI pada 3 besar terbaik.

Penyelenggaraan rapat pada Pemerintah Daerah yang selama ini tidak bisa kita akses bagaimana proses keberlangsunganya  menjadi bisa kita akses secara bebas semenjak pemanfaatan teknologi untuk keterbukaan informasi publik digunakan maksimal. Pada laman berbagi video Youtube, kita bisa melihat bagaimana berlangsungnya proses rapat yang dihelat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Melalui akun youtube Pemprov DKI, kita secara leluasa bisa melihat proses pengambilan kebijakan pada rapat bahkan hingga berbagai kegiatan seremonial yang diadakan. Menurut keterangan dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pemanfaatan teknologi ini merupakan upaya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendekatkan diri pada masyarakat dan juga transparansi oleh publik. Metode ini pun sudah mulai diikuti oleh Pemerintah Provinsi lainya di Indonesia.

Kini, ketika tak puas dengan kebijakan yang dihasilkan oleh Pemerintah, kita bisa langsung mengawalnya melalui sebuah petisi. Adalah situs change.org yang menjadi corong ketika masyarakat tak puas dengan kebijakan yang dihasilkan oleh Pemerintah. Situs ini memfasilitasi masyarakat untuk mengungkapkan ketidakpuasanya melalui petisi yang bisa langsung mendapatkan dukungan dari masyarakat lainya yang dalam satu pemikiran. Ketika jumlah petisi mencapai jumlah yang signifikan, makan Pemerintah akan memperhatikan isi yang tercantum di dalamnya. 2014 mencatat terjadinya kenaikan jumlah signifikan pada petisi yang dihasilkan oleh masyarakat yakni hingga 900.000. Tidak lain tidak bukan ini adalah efek dari demokrasi digital yang berujung pada keterbukaan informasi pada publik.

Berdasarkan fakta di atas, keterbukaan informasi publik menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi pada era digital seperti saat ini. Akses masyarakat terhadap sebuah informasi menjadi tak ada batas dan dapat dilakukan dimana dan kapan saja. Oleh karena itu, atas permintaan terhadap keterbukaan informasi publik dari pemerintah oleh rakyat yang semakin tinggi, maka partisipasi tinggi dari rakyat juga diharapkan akan muncul. Inisiatif dari rakyat untuk menjunjung tinggi asas keterbukaan informasi publik sudah didukung oleh mudahnya akses digital sebagai media. Ayo turun tangan demi terwujudnya keterbukaan informasi publik pada era demokrasi digital!



@aditmaulhas

Minggu, 04 Januari 2015

Ketika Seorang Kapten dalam Persimpangan




Dunia terkejut ketika pada Jum’at (2/1) sore waktu Indonesia Barat seorang kapten tim mengumumkan untuk tidak memperpanjang kontraknya dalam sebuah klub. Tak sembarang kapten, namun juga telah menjadi ikon kotanya. Steven George Gerrard nama lengkapnya, memutuskan untuk mengakhiri masa baktinya sebagai kapten tim Liverpool FC seusai musim 14/15 paripurna. Sebuah keputusan besar untuk tidak memperpanjang kontrak untuk bermain bagi klub yang membesarkanya sejak merintis karir di akademi hingga menyandang ban kapten di tim senior. Tak kurang sudah 17 tahun seorang Gerrard, pria penuh kharisma yang lahir di bagian dari distrik Merseyside Liverpool bernama Whiston, mengocek si kult bundar.

Kondisi Gerrard ketika mengumumkan diri untuk tidak memperpanjang kontrak di akhir musim sebenarnya berada dalam kondisi persimpangan. Liverpool, tim yang dibelanya, berada dalam kondisi yang jauh dari kata memuaskan hingga pekan ke 20 Premier League. The Reds tececer ke peringkat 8 klasemen sementara jauh dari pencapaian runner up pada musim 13/14. Analisis yang berkembang, mandeknya permainan Liverpool yang sering kehilangan poin dan tak berkarakter pada tiap pertandinganya adalah merupakan andil dari pemain yang memiliki nama akrab Stevie G. Umur tak bisa dibohongi. Pada usianya yang ke 34 statstik dan performa Kapten bernomor 8 ini telah menurun.

Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Squawka, dalam 17 pertandingan ketika Gerrard diturunkan sebagai starter selama 90 menit, hanya 6 yang berakhir dengan kemenangan. Bahkan ketika partai away ketika kalah 3-1 melawan Crystal Palace statistik tacklenya tak ada satupun yang berhasil alias 0%! Hal ini berpengaruh pada rataan tackle yang berbanding terbalik bagi seorang Steven Gerrard. Sampai pekan ke 20 EPL musim ini hanya 27 tekel yang sukses, tak ada setengahnya dari catatan yang ia torehkan dengan namanya pada musim lalu berjumlah 71.

Statistik tekel Steven Gerrard ketika Liverpool kalah 1-3 dikandang Palace

foto via twitter.com/squawka



Perbandingan performa yang tampak menurun dari Steven Gerrard dari musim 13/14 ke musim 14/15

foto via squawka.com



Atas dasar menurunya performa, menit bermain seorang Gerrard menjadi berkurang. Tak ayal bangku cadangan saat ini menjadi teman akrab seorang ikon kota Liverpool ini. Kondisi ini mau tak mau diambil pelatih Brendan Rodgers ketika kekompakan tim tak kunjung muncul. Posisi Gerrard yang berevolusi sejak musim lalu yakni menjadi gelandang bertahan tak lagi memberikan rasa aman bagi back four di belakangnya. Sosoknya mulai tergantikan oleh seorang Lucas Leiva dengan catatan statistik yang lebih mentereng dari Gerrard dalam posnya sebagai filter pertama serangan lawan, dengan 36.5% intersep. Sementara sosok Stevie G hanya mampu menorehkan 20% intersep hingga pekan ke 20. Kondisi ini menjadi dilematis bagi Rodgers. Sebagai seorang gaffer, masih sulit rasanya untuk menafikkan pemain sekaliber Gerrard hanya di bangku cadangan. Berbagai opsi sudah dilakukan B-Rod untuk terus memakai Gerrard sebagai inti permainan Liverpool seperti menduetkan Gerrard dengan Lucas dalam skema double pivot hingga mengorbankan Henderson di posisikan sebagai sayap kanan.  Hasilnya pun setali tiga uang, performa tim tetap tak kunjung maksimal.

Secara implisit bisa kita lihat bahwa keputusan Gerrard untuk tidak memperpanjang kontraknya di Liverpool karena personal dari sosok mantan kapten timnas Inggris ini yang masih ambisius untuk mendapatkan menit bermain yang reguler 90 menit pada tiap pekan. Keputusan untuk meninggalkan Liverpool pada akhir musim 14/15 untuk selanjutnya mencicipi tantangan baru di liga sepakbola Amerika Serikat, Major League Soccer (MLS), seakan menguatkan ambisinya untuk terus berpeluh keringat di lapangan hijau.

Statement resmi dari Gerrard untuk melanjutkan karirnya di Major League Soccer tertekam dari tweet resmi @LFC


Pada akhirnya, keputusan dari Captain Fantastic untuk tidak memperpanjang kontrak bersama Liverpool pada akhir musim 14/15 adalah keputusan yang perlu diputuskan pada titik sebuah persimpangan. Di satu sisi, Liverpool sebagai sebuah tim perlu terus berkembang tanpa harus terhambat oleh figur satu atau dua pemain saja. Sementara pada sisi yang lain, seorang ikon tim merasa masih mempunyai gairah untuk terus bermain. Sebagai seorang kopites, perlu rasanya legowo dan mengapresiasi keputusan seorang Steven Gerrard untuk mengakhiri petualanganya di Liverpool selama 17 tahun pada akhir musim nanti, seperti besarnya rasa apresiasinya yang ia ungkapkan untuk mewakili para suporter Liverpool FC sebagai pemain dan sebagai seorang kapten.



“It has been a previlege to represent you, as a player and as a captain. I have cherished every second of it”


Thank you, Stevie.





@aditmaulhas


Minggu, 28 Desember 2014

Membingkai Kenangan dan Melampaui Masa Depan Bersama Doraemon



Tiga plot dihadirkan dalam nostalgia masa kecil ketika hari Minggu tiap pukul 8 pagi. Pada plot pertama kita akan mengenal bagaimana awal pertama pertemuan Nobita dan doraemon beserta alat-alat yang keluar dari kantong ajaib. Kenangan masa kanak-kanak itupun muncul.

Plot kedua merupakan yang paling banyak di sorot dalam film yang digagas untuk memperingati 80th penulis serial kucing ajaib ini, Fujiko F Fujio. Bagaimana dinamika love struck dari Nobita dan Shizuka. Pembaca setia komik atau penonton serial setia dari Doraemon pasti sudah tahu bagaimana intrik yang terjadi tentang kisah cinta Nobita yang begitu menghiasi masa kecilnya. Berharap ingin bersanding di pelaminan dengan seorang yang cantik pintar memainkan biola bernama Shizuka. Dalam scene diceritakan bagaimana Nobita ingin tahu kejadian apa yang terjadi dengan kisah cintanya dengan Shizuka ketika beranjak dewasa. Dengan mesin waktu, Nobita bersama Doraemon melihat apa yang terjadi ketika Nobita beranjak dewasa. Sayang, scene yang ditunggu para pecinta serial ini, ketika pernikahan Nobita dan Shizuka tak ditampilkan. At least, dengan mesin waktunya, Nobita telah melampaui masa depan untuk mengetahui siapa jodohnya kelak.

Nobita telah menemukan kebahagiaan dan tugas Doraemon telah selesai menjadi penutup yang tersaji di plot ketiga. Momen-momen ketika Doraemon telah sukses memberikan kebahagiaan bagi Nobita dan harus pulang ke abad 21. Momen yang membuat para hipster Doraemon menitikkan air mata ketika Doraemon menangis harus pulang dan perjuangan tak kenal lelah Nobita untuk mengalahkan Giant.

Patut disayangkan ketika film ini belum menjawab banyak pertanyaan yang sering ditunggu oleh pecinta Doraemon. Bagaimana kehidupan Nobita dan kawan-kawan ketika beranjak dewasa? Apakah Doraemon benar-benar sudah mencapai episode terakhirnya? Pertanyaan tersebut masih menjadi sebuah misteri yang belum terjawab. Dan amat disayangkan pula ketika film ini ternyata bocor sehingga bentuk illegalnya dalam .wmv bisa beredar bebas dan gratis dari satu flashdisk ke flashdisk lainya.

Perjuangan menonton Doraemon sampai ke Magelang!


Pengalaman menonton “Stand by Me, Doraemon” di bioskop, walaupun lebih mahal dan harus keluar kota (bagi yang berdomisili di Yogya) sungguh priceless. Kita bisa melihat sebuah fenomena manusia yang terus berkembang. Para penikmat serial Doraemon yang sudah berkeluarga misalnya mengajak anak-anaknya untuk ikut menonton serial kucing ajaib dari Jepang, mengajak mengambil intisari kehidupan yang tersaji di dalam kisahnya untuk kemudian merefleksikanya dalam kehidupan sehari-hari.

Ya, menonton kisah Doraemon dalam “Stand by Me, Doraemon adalah sebuah upaya untuk membingkai masa lalu dan melampaui masa depan.


@aditmaulhas

Rabu, 12 November 2014

Berdiasporalah, Pemain Indonesia!

Di era globalisasi seperti saat ini, fenomena perpindahan manusia semkin marak kita temui. Dibukanya pasar bebas membuka peluang setiap individu untuk bisa bekerja di belahan bumi manapun. Setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa mengembangkan kariernya.

Pun yang terjadi di Indonesia. setiap personal yang ada di Indonesia saat ini memiliki kesempatan untuk bekerja dan meniti karir seluas-luasnya. Tak hanya berada di Indonesia saja namun juga terbuka kesempatan untuk bisa ke luar negeri. Fenomena penduduk Indonesia yang bekerja diluar negeri ini dinamakan sebagai diaspora.

Diaspora menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki definisi yakni tersebarnya penduduk dari satu negara ke berbagai penjuru dunia. istilah ini yang coba diusung penulis sebagai istilah yang juga dapat berlaku di sepakbola. Bila ditarik kesamaan antara diaspora dan sepakbola, arti yang muncul adalah keadaan dimana suatu negara mampu untuk memproduksi pemain sepakbola yang berkualitas dan mampu menyebar untuk bermain di liga dari berbagai penjuru dunia.

Fenomena pemain Indonesia ke luar negeri untuk bermain sepakbola dimulai pada tahun 1974. Adalah Iswadi Idris yang mengawali kariernya di luar negeri bersama klub Liga Australia Western Suburbs. Selama satu musim pada 1974-75, legenda sepakbola Indonesia ini tampil sebagai pilar klub. Berlanjut pada tahun 1988, klub Matsushita yang bermain di Liga Jepang merekrut salah satu penyerang haus gol Indonesia Ricky Yackobi. Tak mau kalah dengan rekanya setahun kemudian Robby Darwis menjadi pujaan publik Malaysia melaui aksinya di klub Kelantan FA pada 1989-90.

Pemain Indonesia mulai diperhitungkan di liga Eropa pada waktu itu ketika Kurnia Sandy dan Kurniawan Dwi Yulianto sukses masuk tim utama salahsatu klub Serie-A Italia Sampdoria. Pada waktu itu musim 1996-97, Kurnia Sandy masuk sebagai kiper ketiga tim yang bermarkas di Genoa, Italia itu. Namun sayang pada waktu itu Allenatore dari Sampdoria jarang memberikan menit bermain kepada Kurnia Sandy karena lebih mempercayakan pada kiper lokal. Pun hal yang sama terjadi pada Kurniawan. Padahal sebelum berlabuh di Sampdoria, Kurniawan telah memiliki pengalaman bermain di Liga Eropa bersama klub Swiss FC Luzern pada 1994-95.

Kurniawan DY ketika bermain di tim Primavera Sampdoria

foto via http://syifaurrahman.files.wordpress.com/


Fenomena diaspora pemain Indonesia untuk bermain di liga Eropa semakin deras pada medio 2000an. Liga Hongkong menjadi tempat mengadu nasib mengocek bola bagi Rochi Putiray. Selama 3 musim Rochi menjadi bomber yang menakutkan di depan gawang lawan di Liga Hongkong. Instant-Dict FC, Happy Valley, South China AA dan Kitchee SC menjadi klub tempat persinggahan Rochi Putiray. Bahkan sejarah mencatat pada sebuah laga ujicoba bersama Kitchee SC, Rochi Putiray sukses dua kali menjebol gawang AC Milan yang dikawal oleh  Christian Abbiati pada waktu itu.

Aksi Rochi Puttiray ketika membobol gawang AC Milan pada sebuah laga ujicoba Kitchee FC, Hongkong

foto via www.pbase.com/accl


Negara tetangga kita juga tak akan pernah lupa bagaimana dua pemain Indonesia yang bermain bagi klub lokal Selangor FC sukses memberikan kejayaan berupa juara liga. Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy membawa Selangor FC berjaya pada musim 2005-07. Bahkan Bepe dua kali sukses menyabet gelar pemain terbaik dan topskor di Liga Malaysia.

Bepe mengharumkan nama Indonesia di negeri jiran Malaysia lewat torehan golnya

foto via www.sundul.com


Melihat fenomena diatas maka sangat layak jika himbauan untuk pemain Indonesia bisa berdiaspora, bermain di liga di penjuru dunia, untuk terus diapungkan. Memang, kenyataan yang selama ini terjadi pemain Indonesia masih ada dibawah dari pemain dari negara Eropa bahkan Jepang dan Korea Selatan dalam hal kualitas. Kebanyakan pemain Indonesia merasa minder ketika bersaing di liga selain liga Indonesia. namun, justru metode diaspora inilah yang sangat dibutuhkan oleh pemain Indonesia saat ini. 

Kita bisa melihat bagaimana amburadulnya Liga Indonesia. dari hal yang pertama dan esensial adalah soal jadwal liga yang kerapkali berubah. Menjadi hal yang sangat riskan bagi pesepakbola dan sebuah tim apabila jadwal liga bisa berubah tak menentu. Program yang telah dilaksakan oleh tim akan kena imbasnya dan pemain tidak bisa berkembang menuju performa terbaiknya. Jadwal Liga Indonesia kerap kali berubah karena izin dari panpel yang kerap tak keluar akibat tidak terjamin keamanan pertandingan. Kedua, manajemen gaji klub-klub Liga Indonesia masih sangat parah. Banyak klub-klub di Liga Indonesia yang terlambat membayarkan gaji kepada pemainya. Hal ini tentu berimbas pada kesejahteraan dan kenyamanan pemain. Hal ini jelas tidak menunjang pada perkembangan pemain dalam mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Faktor ketiga yang menyebabkan Liga Indonesia belum sepenuhnya profesional adalah masih banyaknya permainan keras yang kadang tidak di peringatkan oleh wasit. Tekel-tekel keras yang dipertunjukan oleh pemain kerap tidak di peringatkan oleh wasit. Hal ini berdampak besar ketika pemain Indonesia bertanding di kancah ASEAN seperti di AFF Cup atau Sea Games atau bahkan di kancah Asia seperti Piala Asia, Liga Champion Asia, dan AFC Cup. Pemain Indonesia kerap melakukan tekel keras akibat terbawa oleh permainan yang seringkali terjadi di Liga Indonesia. Namun bedanya, pada level ini pemain Indonesia mendapat getahnya melalui kartu kuning yang tidak perlu atau bahkan kartu merah yang justru memberikan kerugian bagi tim yang dibelanya. 

Kerasnya J-League saat ini di rasakan Irfan Bachdim bersama Venforet Kofu

foto via lintas.me


Atas dasar hal diatas, sudah saatnya pemain Indonesia untuk berdiaspora bermain di liga-liga sepakbola di luar negeri. Transfer ilmu akan didapatkan oleh pemain Indonesia mulai dari sistem liga yang terstuktur dengan rapi, fasilitas latihan yang bagus sehingga mampu meningkatkan skill individu serta penguatan mental untuk bersaing dengan para pemain sepakbola dari penjuru dunia. Tetap terus maju bagi pemain Indonesia yang memutuskan untuk berdiaspora di liga luar negeri bagi Andik Vermansyah, Hamka Hamzah, Patrich Wanggai, Yandi Sofyan dan Irfan Bachdim untuk musim ini. Tunjukkan bahwa pemain Indonesia tak kalah kualitas. Sekali lagi penulis sarankan, berdiasporalah, pemain Indonesia!


@aditmaulhas

Senin, 16 Juni 2014

Ketika Memakai Logika Sepakbola Pada Logika Cinta

Aku jatuh cinta pada sepakbola seperti aku jatuh cinta kepada perempuan. Semua terjadi tiba-tiba, tak dapat diterangkan dalam kata.
Otak yang kritis berhenti seketika. Aku tak berpikir sama sekali tentang kesakitan dan kekacauan yang mungkin terjadi karenanya.


Sebuah ungkapan dari Nick Hornby, Warga Inggris penggila bola dan penulis buku terkenal tentang sepakbola. Ya, ketika logika sepakbola dan cinta berjalan beriringan. Keduanya secara logika merepresentasikan sisi yang berbeda. Sepakbola dengan sisi maskulin dan cinta, yang apabila di lihat secara lebih dekat, kental dengan unsur feminis.


Sekarang kita ubah logikanya. Bagaimana logika cinta di benturkan dengan sisi dari sepakbola.

Aku mencintaimu dengan sepenuh hati layaknya seorang pemain yang mencium badge ketika melakukan selebrasi setelah mencetak gol
Aku belajar mencintaimu dengan jatuh bangun, bahkan menuai banyak kesalahan, seperti melatih upaya eksekusi tendangan bebas pada sesi latihan hingga percobaan ke 100 
Aku selalu berjuang untuk mempertahankan cinta kita layaknya sorang pemain yang tetap terus optimis untuk melakukan come back, walaupun keadaan sudah tertinggal dengan skor 3-0
Dan aku mulai berpikir realistis dalam mencintaimu, seperti tim dari kecil dengan budget yang terbatas yang bermain hanya berpikir untuk kebahagiaan tanpa pedulikan lagi sebuah titel. 



@aditmaulhas

Rabu, 26 Maret 2014

Ayo Menjadi Pemilih Cerdas!

Mesin Partai Politik sudah mulai dipanaskan. Jangan sampai kita, selaku pemuda, kalah panas dengan mereka.

Partai Politik sudah memulai ancang-ancang untuk menghadapi Pemilu 2014 yang akan dilaksanakan dua kali, yakni Pemilu untuk Legislatif pada tanggal 9 April dan Pemilu untuk badan Eksekutif pada 9 Juli. Strategi dari tiap Partai Politik sudah mulai di petakan. Strategi melalui pertemuan terbatas dan tatap muka dengan calon langsung, penyebaran alat kampanye, dan pemasangan alat peraga sebagai media kampanye sudah mulai di lakukan oleh tiap Partai Politik. Jelas, mesin dari tiap Partai Politik sudah mulai dipanaskan agar tak terlambat untuk “menjaring” suara di Pemilu 2014 nanti.



Lalu, bagaimana caranya yang notabene sebagai pemuda mempersiapkan diri menjelang Pemilu 2014 agar tak tertinggal?



Berikut ini adalah cara bagaimana kita sebagai pemuda dapat mempersiapkan diri dari awal jelang pelaksanaan Pemilu 2014:

 Pastikan namamu terdaftar sebagai pemilih untuk Pemilu 2014

Tahap ini merupakan persiapan yang paling dasar. Tentu untuk dapat memilih kita harus memastikan nama kita terdaftar dalam data yang ada di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal ini penting, mengingat memilih dalam pemilihan umum adalah hak bagi setiap Warga Negara Indonesia yang sudah memilik Kartu Tanda Penduduk (KTP). Dengan namamu sudah terdaftar di KPU maka suaramu akan sah di Pemilu 2014. Untuk mengetahuinya bisa langsung akses di web data.kpu.go.id

Apabila sudah log-in di web data.kpu.go.id, masukkan nama lengkap di kotak pencarian dengan menyesuaikan dengan alamat lengkap kita berdasarkan data yang tercantum pada KTP. Mesin di web otomatis langsung mencari data kita. Nama kita akan tercantum jika kita sudah terdaftar sebagai pemilih di Pemilu 2014. Seperti inilah tampilan pada web nya:


Jadi, bagi kalian yang belum sempat melakukan cek, ayo buruan cek! :)


Setelah melakukan cek untuk nama kita resmi terdaftar di Daftar Pemilih Tetap bukan berarti langkah kita terhenti. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kepo calon legislatif (caleg) yang akan kita pilih! agar nantinya kita tidak salah pilih seperti memilih kucing dalam karung :)

Untuk melihat siapa-siapa calon representatif dari Yogyakarta untuk DPD dan DPR sebagai contoh bisa cek di http://t.co/NENfSoJYh9 dan http://t.co/gtxoleODwg

Dalam melihat siapa-siapa calon legislatif yang kita pilih, jangan lupa menyesuaikan daerah pemilihan sesuai dimana kita tinggal. Seperti contoh penulis terdaftar dalam daerah pemilihan (dapil) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masih asing dengan nama-nama calon tersebut? tenang. Masih ada internet dengan google dan social medianya. Kepo dengan cermat latar belakangnya. Coba cari tahu apa saja yang sudah dia lakukan sebelum mencalonkan diri sebagai representatif. Cermati juga visi-misi serta ideologi atau mungkin idealisme yang mereka usung.



Itu tadi sedikit langkah-langkah untuk menjadi pemilih cerdas dalam Pemilu 2014 ini. Jangan sampai kita justru terlambat panas dari mesin partai politik yang siap-siap menjaring suara dari kita semua. Satu hal, pastikan dirimu perhatian dan menggunakan hak kita sebagai Warga Negara Indonesia :)



Saya percaya bahwa perubahan itu datang dari hal yang paling kecil. Saya percaya perubahan untuk negara kita tercinta bisa dimulai dari memberikan suara kita pada pemilihan umum.


@aditmaulhas


Selasa, 03 Desember 2013

Belajar Sederhana dari Sosok Pak Tadji

              Masih terbayang dalam ingatan bulan lalu kita memperingati Hari Guru Nasional. Masih hangat pula sebuah tulisan “VIP-kan Guru Guru Kita” dari pak Anies Baswedan di surat kabar minggu lalu. Jelas, Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa. Bagaimana posisi seorang Guru sangatlah menginspirasi bagi kita sekalian selaku muridnya dalam menghadapi dunia ini dengan ilmu yang tiada batas telah diberikan.
            Kemarin (2/12) membaca via akun twitter @MoehiYK terdengar kabar bahwa Guru dari SMA tercinta SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, bp Sutadji Daluprati akan purna tugas. Ketika itu pula terkenang memori-memori ketika masih dibimbing beliau pada masa SMA dulu.
            Pak Tadji, begitu beliau biasa di sapa, sangat memberikan insipirasi bagi saya. Memang ketika itu saya tidak pernah diajar secara oleh beliau secara klasikal di kelas karena beliau adalah guru jur IPA dan saya sendiri adalah murid IPS. Namun, satu hal yang membuat saya bisa berinteraksi dengan beliau adalah ketika berbicara tentang hal keagamaan.
            Beliau dikenal sebagai sosok yang religius oleh masyarakat sekitar. Bagi kita muridnya, Pak Taji merupakan sosok yang tegas dalam hal keagamaan. Tak segan-segan beliau memukul murid laki-laki nya ketika malas untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah di masjid. Beliau bersuara paling lantang ketika kultum setelah shalat dzuhur menngingatkan kepada seluruh muridnya untuk terus  beribadah kepada Allah SWT.
            Yang berbekas langsung kepada saya dari seorang Pak Tadji adalah waktu itu sempat diingatkan oleh beliau ketika jamaah shalat dzuhur. Waktu itu, saya dengan beberapa teman saya akan mendirikan shalat berjamaah. Namun karena kami anggap waktu itu menunggu jamaah lain terlalu lama dan kita juga terburu-buru, akhirnya kami berinisiatif  untuk shalat jamaah lebih dulu. Alhasil jamaah grup besarnya ter-pending menunggu kami selesai shalat. Sadar kami telah mengganggu jalanya ibadah shalat, saya pun, yang waktu itu sebagai imam di dekati oleh pak Taji. Saya sangka ketika itu beliau akan memarahi saya namun ternyata beliau mendekati saya dan menasehati saya bahwa perbuatan saya tadi keliru dan dihimbau untuk tidak mengulanginya kembali.
            Sosok sederhana beliau juga tergambar ketika saya dengan teman saya Aji (@dimassaksilaaji) datang kerumah beliau dalam rangka mengundang beliau sebagai pembicara pada acara syawalan #2010Moehi. Beliau tinggal di rumah sederhana desain jaman dulu tak jauh dari SMA Muhi. Kami pun diterima beliau dengan baik di sebuah kursi dipan (kursi dengan bahan utama kayu) di ruang tamunya. Tampak disana pula kami melihat tumpukan kertas, yang mungkin waktu itu saya sangka adalah sebuah koreksian tugas dan ujian, serta sepeda yang selalu menemani beliau sebagai alat transportasi. Beliau, Pak Taji, selalu tersenyum ketika menerima kami. Tak ada perasaan sedih dari raut muka beliau pada waktu itu.
Pak Tadji quote
foto via @fanianiffah



            Ujaran, “jangan sombong ananda” menjadi ujaran yang terus terngiang di dalam hati sanubari setiap muridnya. Saya banyak belajar dari beliau tentang arti kesedehanaan dalam hidup serta keagaaman dalam hal meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Selamat purna tugas Pak Tadji, semoga kami dapat terus mengamalkan ilmu yang telah engkau berikan.


@aditmaulhas