Jumat, 08 Juli 2016

Ramadhan di Rantau: Khidmat dalam Kesunyian


Kesendirian yang dialami ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan jauh dari rumah menyiratkan sebuah makna: adanya hubungan yang lebih dekat kepada sang maha pencipta. Ibadah yang paling dinanti-nantikan kehadiranya dalam satu tahun ini menghadirkan komunikasi yang jauh lebih dekat kepada sang khalik, tanpa sekat, ketika dijalankan ketika bersemayam di tanah rantau.

Durasi yang lebih lama dari apa yang biasa dijalankan ketika ditanah air memberikan satu pelajaran bagi pribadi yang telah beranjak menuju matang. Dewasa ini, ibadah shaum bukan lebih dari menahan hawa nafsu untuk makan dan minum, ada nilai wajib yang justru kerap terlupa untuk dipelajari, berupa menahan diri dalam bingkai toleransi dan menjaga diri dari laku luapan amarah yang berlebih.

***
Puasa tahun ini saya alami jauh dari kampung halaman, sekitar 18 jam 20 menit waktu tempuh perjalanan menggunakan pesawat, bertepatan dengan amanah dari Negara untuk menuntut ilmu di negeri Britania Raya. Ya, bulan Ramadhan kali ini saya nikmati dari wilayah yang islamnya bukan menjadi mayoritas layaknya di tanah air.

Yang sering dibicarakan menjelang satu Ramadhan, yang mungkin juga kerap dikeluhkan dan diwanti-wanti oleh banyak orang, adalah lamanya waktu menahan diri dari segala godaan yang terpaut cukup jauh dari tempat asal. Kurang lebih selama 19 jam, umat muslim yang tinggal di negeri yang baru-baru ini memilih untuk keluar dari Uni Eropa ini harus jalani dari mulai terbenam matahari hingga nanti terbit dipenghujung hari.

Menilik pada kisah berpuasa di Iqaluit, salahsatu wilayah terluar dari Kanada, Muslim yang bermukim di seputaran Inggris Raya patutlah bersyukur. Pemeluk Islam yang berbeda 1300 kilometer dari ibukota Ottawa ini menjalankan puasa ditengah ketidakpastian akan terbenamnya matahari. 23 jam berpuasa menjadi konsekuensi umat Islam yang berada di Negara yang berdekatan dengan Amerika Serikat ini.

Namun, ketika dijalankan, semua kerisauan akan durasi shaum yang menyentuh 19 jam itu seakan berpendar. Justru, dalam kesendirian yang membingkai puasa Ramadhan tahun ini memberikan banyak waktu untuk bertafakkur, merenung untuk lebih dekat dengan sang Maha Memberi. Tiga puluh hari yang Dia berikan kepada umatnya untuk berlomba-lomba mendapatkan kemuliaan, terasa menyejukkan. Jarak antara berbuka, ibadah Sunnah tarawih, dan kemudian sahur yang tak terpaut jauh, sekitar 5 jam, memudahkan untuk membagi waktu pada tiap harinya. Pola yang terbentuk ketika Ramadhan, yakni pagi hingga menjelang berbuka untuk belajar kemudian beribadah dimalam harinya, membuat apa yang dikerjakan pada tanah rantau menjadi fokus.

Kemudian, kesendirian yang terbingkai dalam ibadah puasa di tanah ranau menyajikan sebuah pembelajaran, bahwa ibadah menahan diri dari hawa nafsu ini adalah pewujudan sebuah ibadah yang intim. Puasa, dari yang dirasakan dalam satu bulan, adalah ibadah yang penuh dengan kesunyian. Ia tak perlu diumbar-umbar secara berlebihan agar khalayak ramai mengetahuinya. Cukuplah kita dan sang pencipta saja yang mengetahuinya, terbalut dalam kesunyian yang penuh tawadlu.

Atas dasar ibadah terasa begitu intim ini, Allah SWT menjanjikan satu keutamaan yang luar biasa bagi umatnya yang menjalankan. Janji tersebut terungkap jelas pada hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya

Belajar dari hal tersebut, nilai intim dalam kesunyian berpuasa membuat pribadi untuk mencoba mawas diri. Menengok pada apa yang terjadi di tanah air, perdebatan yang selalu berulang tiap bulan suci Ramadhan, yakni baiknya tetap dibuka untuk warung agar tetap berjualan atau ditutup demi menghormati yang berpuasa, tentunya dapat dihindari. Dengan suasana hubungan yang dekat dengan sang pencipta, tak patutlah kita mengumbar-umbar bahwa sedang dalam keadaan berpuasa, karena kita telah fokus dengan benteng iman yang telah terbangun.

***
Dibalik kesendirian yang kadang terbesit dalam pelaksanaan Ramadhan di tanah rantau, wujud kesyukuran hendaknya tak boleh luput dari dalam diri. Melaksanakan puasa jauh dari rumah, beribu-ribu kilometer jarak yang terbentang dari kampung halaman, memberikan pembelajaran hidup secara tersirat dari-Nya.

Dunia yang dewasa ini begitu berjalan begitu cepat, memerlukan jeda sebagai momentum untuk menyerap intisari dari hidup. Kesunyian yang terbingkai pada dekatnya hubungan antara umatnya dengan sang pencipta, pada suasana Ramadhan di perantauan, memberikan jeda tersebut. Tentunya, dengan diiringi niat luhur untuk belajar dari apa yang dirasakan.

Wallahualam bi shawab.